Kehidupan Sosial Ekonomi,Politik Budaya Kerajaan Singhasari
A. Kompetensi Inti
Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Candi Singhasari terletak
berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa
Timur, Indonesia. Candi ini bercirikan agama hindu-buddha. Menurut Negarakertagama,
candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari
terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istana diserang
tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini
tidak pernah selesai dibangun.

Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
B. Kompetensi Dasar
3.1 menganalisis sitem pemerintahan, sosial,
ekonomi dan kebudayaan masyarakat indonesia pada masa kerajaan kerajaan besar
Hindu Budha untuk menentukan faktor yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat
indonesia pada masa itu dan masa kini
C. Indikator
Mendeskripsikan corak kehidupan masyarakat ( politik,sosial, ekonomi Bbdaya ) masyarakat indonesia pada masa kerajaan Singhasari
Mendeskripsikan corak kehidupan masyarakat ( politik,sosial, ekonomi Bbdaya ) masyarakat indonesia pada masa kerajaan Singhasari
Kehidupan
Sosial Ekonomi,Politik Budaya Kerajaan
Singhasari
Sejarah Kerajaan
Singasari berawal dari Kerajaan Tumapel, yang dikuasai oleh seorang akuwu
(bupati). Letaknya di daerah pegunungan yang subur di wilayah Malang dengan
pelabuhannya bernama Pasuruan. Dari daerah inilah Kerajaan Singasari berkembang
dan bahkan menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Timur, terutama setelah
berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dalam pertempuran di dekat Ganter tahun
1222 M.
a. Sumber Sejarah
Sumber-sumber sejarah Kerajaan Singasari berasal dari:
Kitab Pararaton, menceritakan tentang raja-raja Singasari.
• Kitab Negarakertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan erat dengan raja-raja Singasari.
• Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248 M.
b. Kehidupan Politik
Kerajaan Singasari yang pemah mengalami kejayaan dalam perkem-bangan sejarah Hindu di Indonesia pernah diperintah oleh raja-raja sebagai berikut.
1. Raja Ken Arok
a. Sumber Sejarah
Sumber-sumber sejarah Kerajaan Singasari berasal dari:
Kitab Pararaton, menceritakan tentang raja-raja Singasari.
• Kitab Negarakertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan erat dengan raja-raja Singasari.
• Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248 M.
b. Kehidupan Politik
Kerajaan Singasari yang pemah mengalami kejayaan dalam perkem-bangan sejarah Hindu di Indonesia pernah diperintah oleh raja-raja sebagai berikut.
1. Raja Ken Arok
Setelah kemenangannya dalam pertempuran
melawan Kerajaan Kediri, Ken Arok memutuskan untuk membuat dinasti Bhattara
serta membangun kerajaan baru dengan nama Kerajaan Singasari. Ken Arok sebagai
raja pertama Kerajaan Singasari bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang
Amurwabhumi dan dinastinya bernama Dinasti Girindrawangsa (Dinasti Keturunan
Siwa). Pendirian dinasti ini bertujuan menghilangkan jejak tentang siapa
sebenarnya Ken Arok dan mengapa ia berhasil mendirikan kerajaan. Di samping
itu, agar keturunan-keturunan Ken Arok (bila suatu saat menjadi raja besar)
tidak ternoda oleh perilaku dan tindakan kejahatan yang pemah dilakukan oleh
Ken Arok. Raja Ken Arok memerintah pada tahun 1222-1227 M. Masa pemerintahan
Ken Arok diakhiri secara tragis, saat ia dibunuh oleh kaki tangan Anusapati,
yang merupakan anak tirinya (anak Ken Dedes dengan suami pertamanya Tunggul
Ametung)
2. Raja Anusapati
Dengan
meninggalnya Ken Arok, tahta Kerajaan Singasari langsung dipegang oleh
Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahan yang cukup lama itu(1227-1248 M),
Anusapati tidak melakukan pembaruan-pembaruan, karena Anusapati larut dengan
kegemarannya sendiri yaitu menyabung ayam.Peristiwa kematian Ken Arok
akhirnyaterbongkar dan sampai
kepada putra Ken Arok dengan Ken Umang yang
bernama Tohjaya. Tohjaya mengetahui bahwa Anusapati suka menyabung ayam, karena
itu Anusapati diundang untuk menyabung ayam di Gedong Jiwa (tempat kediaman
Tohjaya). Saat Anusapati sedang asyik melihat aduan ayamnya, secara tiba-tiba
Tohjaya mencabut keris Empu Gandring yang dibawa Anusapati dan langsung
menusukkan ke punggung Anusapati hingga ia meninggal.
3. Raja Tohjaya
Dengan meninggalnya Anusapati, tahta kerajaan
dipegang oleh Tohjaya. Tohjaya memerintah Kerajaan Singasari hanya beberapa
bulan saja (1248 M), karena putra Anusapati yang bernama Ranggawuni mengetahui
perihal kematian Anusapati. Ranggawuni yang dibantu oleh Mahesa Cempaka
menuntut hak atas tahta kerajaan kepada Tohjaya. Tetapi Tohjaya mengirim
pasukannya untuk menangkap Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Rencana Tohjaya telah
diketahui oleh Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, sehingga keduanya melarikan diri
sebelum pasukan Tohjaya menangkap mereka.
Untuk
menyelidiki persembunyian Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, Tohjaya mengirim
pasukan di bawah pimpinan Lembu Ampal. Namun, Lembu Ampal akhirnya menyadari
bahwa yang berhak atas tahta kerajaan ternyata Ranggawuni, maka ia berbalik
memihak Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Ranggawuni yang dibantu Mahesa Cempaka
dan Lembu Ampal berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan Tohjaya.Selanjutnya
Ranggawuni menduduki tahta Kerajaan Singasari.
4. Raja Wisnuwardhana Ranggawuni
Naik tahta
atas Kerajaan Singasari dengan gelar Sri JayaWisnuwardhana dibantu oleh Mahesa
Cempaka dengan gelar Narasinghamurti.Mereka memerintah bersama Kerajaan
Singasari (1248-1268 M).Wisnuwardhana sebagai raja, Narasinghamurti sebagai
Ratu Angabhaya.Pemerintahan kedua penguasa tersebut membawa keamanan dan
kesejahteraan.Pada tahun 1254 M, Wisnuwardhana mengangkat putranya sebagai
Yuvaraja (raja muda) dengan maksud untuk mempersiapkan putranya yang bernama
Kertanegara menjadi seorang raja besar di Kerajaan Singasari.Setelah
Wisnuwardhana meninggal dunia (dialah satu-satunya raja yang meninggal tidak
terbunuh di Kerajaan Singasari), tahta Kerajaan Singasari beralih kepada
Kertanegara.
5. Raja Kertanegara
Raja Kertanegara
(1268-1292 M) merupakan raja terkemuka dan raja terakhir dari Kerajaan
Singasari. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Singasari mencapai masa
kejayaannya. Stabilitas kerajaan yang diwujudkan pada masa pemerintahan Raja
Wisnuwardhana disempurnakan lagi dengan tindakan-tindakan yang tegas dan
berani. Setelah keadaaan Jawa Timur dianggap baik, Raja Kertanegara melangkah
ke luar Jawa Timur untuk mewujudkan cita-cita persatuan seluruh Nusantara di
bawah panji Kerajaan Singasari.Upaya yang ditempuh Raja Kertanegara dapat dilihat
dari pelaksanaan politik dalam dan luar negeri.
Dalam rangka mewujudkan
Stabilitas politik Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara menempuh jalan sebagai
berikut.
1.
Mengadakan pergeseran
pembantu-pembantunya seperti Mahapatih Raganata digantikan oleh Aragani.
Raganata diangkat menjadi Adhiyaksa di Tumapel. Juga banyak Wide yang berasal
dari rakyat biasa diangkat menjadi pegawai tinggi dengan gelar Aryawiraraja dan
diangkat menjadi bupati Sumenep (Madura).
2.
Berbuat baik terhadap
lawan-lawan politiknya, yaitu dengan mengangkat putra Jayakatwang raja Kadiri
yang bernama Ardharaja diambil jadi manantu. Serta Raden Wijaya selaku cucu Mahesa Campaka
dijadikan menantu pula.
3.
Memperkuat angkatan perang untuk menciptkan
keamanan dan ketertiban didalam negeri dan mewujudkan persatuan Nusantara
C. Peninggalan Budaya Kerajaan Singhasari
a. Candi Singhasari
Candi Singhasari terletak
berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa
Timur, Indonesia. Candi ini bercirikan agama hindu-buddha. Menurut Negarakertagama,
candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari
terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istana diserang
tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini
tidak pernah selesai dibangun.b. Candi Jago

Candi Jago yang
terletak di Desa Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini aslinya bernama
Jayaghu. Candi Jago yang
terletak di Desa Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini aslinya bernama
Jayaghu. Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak.
Keseluruhannya memiliki panjang 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m.
Bangunan Candi Jago nampak sudah tidak utuh lagi; yang tertinggal pada Candi
Jago hanyalah bagian kaki dan sebagian kecil badan candi. Badan candi disangga
oleh tiga buah teras. Bagian depan teras menjorok dan badan candi terletak di
bagian teras ke tiga. Atap dan sebagian badan candi telah terbuka. Secara pasti
bentuk atap belum diketahui, namun ada dugaan bahwa bentuk atap Candi Jago
menyerupai Meru atau Pagoda.
c. Candi Kidal
Terletak di desa
Rejokidal, kecamatan Tumpang, sekitar 20 km sebelah timur kota Malang - Jawa
Timur, candi Kidal dibangun pada 1248 M. Candi ini dibangun sebagai bentuk
penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang
memerintah selama 20 tahun (1227 - 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji
Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini
sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.
d. Candi Jawi.
Candi Jawi (nama
asli: Jajawa) adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13 dan merupakan
peninggalan bersejarah Hindu-Buddha Kerajaan Singhasari yang terletak di
terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan
Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia, sekitar 31 kilometer dari kota
Pasuruan. Candi ini di dibangun pada masa pemerintahan Kertajaya yang mana candi
ini berlandasan agama siwa-buddha. Nagarakretagama
menyebut candi ini dengan nama Jajawa yang dikunjungi Raja Majapahit Prabu
Hayam Wuruk sekitar tahun 1359 Masehi. Sang Raja singgah di candi ini untuk
memberikan penghormatan dan persembahan untuk memuliakan kakek buyutnya Prabu
Kertanegara.[2] Negarakertagama menyebutkan, di dalam bilik candi terdapat arca
Siwa. Di atasnya arca Siwa terdapat arca Maha Aksobaya yang kini telah hilang.
e. Stupa Sumberawan
stupa ini hanya berupa sebuah stupa, berlokasi di Desa
Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan jarak
sekitar 6 km dari Candi Singosari. Stupa ini merupakan peninggalan Kerajaan
Singhasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Para ahli purbakala
memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang
terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam
Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari
bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat
diperkirakan bahwa bangunan Stupa Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai
15 masehi yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa ini
menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.



Comments
Post a Comment