POKOK-POKOK AJARAN SAIWA SIDDHANTA DI BALI

1.      Pendahuluan
1.1  Latar belakang
Agama Hindu (Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi", dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini.  Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa.(wikipedia,2012)
Kata “Siddhanta” dapat diterjemahkan sebagai “kesimpulan akhir”, sehingga secara harfiah arti kata Saiwa Siddhanta adalah Saiwa sebagai kesimpulan akhir. Atau dengan kata lain menempatkan Saiwa sebagai kesimpulan dan tujuan tertinggi. Paham Siva Siddhanta berkembang subur di daerah suku Tamil di India Selatan dan juga di kawasan Kasmir. Menurut teologi saiwa Siddhanta, Tuhan, Jiva dan benda-benda di alam semesta ini adalah nyata. Secara terminologis mereka menyebut Tuhan sebagai “Pati”, sedangkan Jiva disebut “Pasu” dan benda-benda di alam material disebut “Pasa”. Dari ketiga ini mereka beranggapan bahwa Pati-lah yang paling tinggi dan dipuja dengan sebutan Saiwa atau Hara. Siva dianggap sebagai sumber dari Trimurti (Brahma, Visnu dan Rudra). Disamping itu Siva juga disebut sebagai Iswara dan Maheswara. Dalam ritual keagamaannya mereka senantiasa melakukan persembahan kepada Siva yang terkonsentasi pada Siwa Lingam.         
Marmut (2011) mengatakan bahwa Siwaisme yang berkembang di India, merupakan asal mula dari agama Hindu. Berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Siwaisme di daerah Jammu dan Kashmir, di sekitar pegunungan Himalaya (Parwata Kailasa). Di wilayah Jammu dan Kashmir, terdapat lembah sungai Sindhu. Di lembah inilah cikal bakal kehadiran paham Siwaisme pertama kali di India, dan berkembang pesat ke seluruh India, dan wilayah diluar India, salah satunya adalah Indonesia.

1.2. Rumusan masalah.
(1). Bagaimana masuknya aliran Saiwa Siddhanta di Bali?
(2). Bagaimana pokok-pokok ajaran Saiwa Siddhanta di Bali?

1.3. Tujuan Penulisan.
(1). Untuk menjelaskan masuknya aliran Saiwa Siddhanta di Bali
(2). Untuk menjelaskan pokok-pokok ajaran Saiwa Siddhanta di Bali

2. Pembahasan
2.2 Masuknya Aliran Saiwa Siddhanta di Bali
Agama hindu aliran Saiwa Siddhanta meluas di kalangan raja Bali. Meluas dan mendalamnya ajaran agama ini dianut oleh raja dan rakyat tentunya melalui proses yang cukup panjang, oleh karena itu agama Hindu (sekte Saiwa Siddhanta) sudah masuk secara perlahan-lahan sebelum abad ke-8 Masehi.Bukti lain yang merupakan awal penyebaran agama Hindu di Bali adalah ditemukannya arca Siwa di pura Putra Bhatara Desa di desa Bedaulu, Gianyar. Arca tersebut merupakan satu tipe  dengan arca-arca Siwa dari candi Dieng yang berasal dari abad ke-8 yang menurut Stutterheim tergolong berasal dari periode seni arca Hindu Bali.
Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Saiwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12). Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali yaitu sekte Saiwa Sidhanta. Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Saiwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya. Aliran/ sekte ini mempunyai banyak pengikut daripada sekte lainnya . Ajaran dari sekte ini merupakan hasil akulturasi dari ajaran-ajaran agama Hindu yang didalamnya terdapat ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber - sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali. Aliran saiwa siddhanta. Pada abad XII masehi aliran Saiwa Siddhanta menyebar ke seluruh India dan Asia Tenggara.
Menurut Goris(1974), hampir semua pedanda di Bali menganut aliran saiwa siddhanta dan menggunakan naskah Bhuwanakosa sebagai acuan. Aliran memuja Tripurusa, yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, juga memuja manifestasi  dewa tertinggi, seperti lingga. Suhadio (1971) mengatakan bahwa dalam naskah jnanasiddanta, dijelaskan bahwa dokkrin siddhanta pada dasarnya mengganggap bahwa asas tertinggi sama dengan Dewa Tertinggi, yaitu Siwa, yang juga sama dengan lingga (Sang Hyang Siwalingga), sama pula dengan suku kata tertinggi, yaitu Om, oleh ksrena itu, menurut aliran itu om mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada upacara pemujaan patung-patung dewa
Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur - unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

2.2 Pokok-pokok Ajaran Saiwa Siddhanta di Bali
            Gunung (2009) mengatakan bahwa ajaran Saiwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama yaitu Tattwa, Susila dan Upacara keagamaan. Tatwa atau filosofi yang mendasarinya adalah ajaran Saiwa Tattwa. Di dalan Saiwa Tattwa, Sang Hyang Widhi adalah Ida Bhatara Saiwa. Dalam lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi Bhatara - Bhatari.
          Sa eko bhagavan sarvah
          Siwa karana karanam
          Aneko viditah sarwah
          Catur vidhasya karanam
          Ekatwanekatwa swalaksana bhatara ekatwa ngaranya
          Kahidup makalaksana siwatattwa
          Tunggal tan rwatiga kahidep nira
          Mangekalaksana siwa karana juga tan paphrabeda
          Aneka ngaranya kahidup Bhataramakalaksana caturdha.
          Caturdha ngaranya laksananiram stuhla suksma sunya.
Artinya :
          Sifat Bhatara eka dan aneka. Eka artinya ia dibayangkan bersifat Saiwa Tattwa, ia hanya esa tidak dibayangkan dua atau tiga. ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara bersifat Caturdha. Caturdha adalah sifatnya, sthula, suksma dan sunia.  
          Dengan contoh - contoh ini menunjukkan bahwa semua Bhatara - Bhatari itu adalah Bhatara Siwa sendiri. Bhatara - Bhatari itulah yang dipuja sebagai Ista Dewata. Banyaknya Ista Dewata yang dipuja akan berkaitan dengan banyaknya Pura dan Pelinggih, Pengastawa, Rerainan dan Banten. Ista Dewata adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai Sada Siwa, sedangkan Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut Sunia.
          Dalam manifestasi ia sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara yang paling mendominasi pemujaan yang ada di Bali. Konsep penciptaan, pemeliharaan dan pemrelina menunjukkan Bhatara Siwa sebagai apa yang sering disebut Sang Hyang Sangkan paraning Numadi, yaitu asal dan kembalinya semua yang ada dan tidak ada di jagat raya ini. Salah satu yang menarik dari keberadaan Bhatara Siwa, ialah Beliau berada dimana - mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider - ider. Di timur Ia adalah Iswara, di tenggara Ia adalah Mahesora, di selatan Ia adalah Brahma, di barat daya Ia adalah Rudra, di barat Ia adalah Mahadewa, di barat laut Ia adalah Sangkara, di utara Ia adalah Wisnu, di timur laut Ia adalah Sambhu dan ditengah Ia adalah Siwa. Sebagai Sang Hyang kala, di timur Ia adalah kala Petak (putih), di selatan Ia adalah kala bang (merah), di barat ia adalah kala gading (kuning), di utara ia adalah kala ireng (hitam) dan ditengah ia adalah kala mancawarna.
          Selain ajaran ke-Tuhanan, ajaran Saiwa Siddhanta juga memuat beberapa ajaran diantaranya ajaran tentang Atma yang sesungguhnya berasal dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga, ajaran Karma Phala yang berkaitan dengan Punarbawa atau siklus reinkarnasi, ajaran pelepasan yang berkaitan tentang Yoda dan Samadhi. Terdapat pula ajaran tata susila yang erat hubungannya dengan ajaran Karma Phala. Tumpuan dari ajaran tata susila itu adalah Tria Kaya Parisuddha yaitu Kayika Parisuddha (berbuat yang benar), Wacika Parisuddha (berbicara yang benar) dan Manacika Parisuddha (berfikir yang benar).

Daftar Rujukan
Goris, R.”Secten op Bali”, Mededeelingen,1931, hlm.37-53, terjemahan dalam bahasa indonesia Sekte-Sekte di Bali, seri terjemahan.

Wikipedia. 2012. Agama Hindu. (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu), diakses 30 Oktober 2012.

Marmut, Gus. 2011. Filsafat Saiwa Siddhanta. (Online), (http://gusmarmut.blogspot.com/2011/05/filsafat-saiva-siddhanta.html), diakses 10 Mei 2011.

Gunung, I. P. G. M. 2009. Siwa Siddhanta di Bali. (Online) (http://idapedandagunung.com/content/view/27/1/), diakses 27 november 2009


SEMOGA BERMANFAAT DAN JANGAN SAMPAI JADI PLAGIAT YA,, :) :)

Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Sosial Ekonomi,Politik Budaya Kerajaan Singhasari

Sistem Birokrasi Bali Kuno